Hari Ini, Buku Apa yang Dibaca

JUDUL-artikel di atas sengaja saya pilih sebagai evaluasi pr ibadi, apa buku yang sudah saya baca. Evaluasi serupa, Ketika membaca artikel judul di atas juga hakikanya mengarah kepada pembaca. Buka apa yang sudah sampean (Anda) baca hari ini?

Maksud tulisan ini untuk mengingatkan diri sendiri. Syukur kalau sampean membaca –walau judul saja, ikut memikirkan apa hari ini telah membaca buku. Jujur, saya sering menggaris bawahi banyak orang meminta kepada sesama untuk membaca. Artinya, komunikasi berupa pesan “membaca” dialamatkan kepada orang yang berhadapan langsung atau tidak langsung

Bila dirupakan “simbol”, seperti mengarahkan jari telunjuk kepada siapa saja yang berada di hadapan kita langsung maupun tidak. Coba bila simbol “jari telunjuk” dibalik arahnya kepada diri dahulu, inilah maksud tulisan ini dibuat.

Diri Sendiri

Jika sudah jelas, prioritas objek tulisan ini dibuat, yaitu diri sendiri dahulu, saya sebagai penulis ingin menjawab bila hari ini buku yang sudah saya baca karya Syahminan Zaini berjudul Jalur Kehidupan Manusia Menurut Al Quran. Buku kuno yang cetak pertama 1990, lalu cetak kedua 1995, ternyata 36 tahun eksis.

Kini di tahun 2026, saya bisa menikmati pemikiran apik, mendalam, berbasis penelitian dengan analisis filosofis (hal. 18) sebagai metode, di mana penulis menguraikan makna penciptaan Tuhan dengan menelusuri pada ayat Al Quran dan hadis sehingga tersimpul bila segala ciptaan-Nya diwujudkan dan suguhkan kepada kita bukan dengan tujuan sia-sia.

Melalui buku yang saya pinjam di Perpustakaan UNUGIRI, kesadaran diri tumbuh. Imun keimanan semakin menebal. Padahal, ini baru satu buku yang saya baca untuk hari ini.

Gadget Mati

Agar proses membaca buku yang hanya 41 halaman sukses atau hatam, saya sengaja menonaktifkan gadget. Proses itu saya mulai Jumat (26/6/26) malam, pukul 19.00-21.00 Wib dapat menyelesaikan halaman V – 24. Kemudian sisanya, yakni halaman 25-35 saya selesaikan pada Sabtu (27/6/26) dari pukul 06.15-06.45 Wib.

Yang ingin saya tekankan adalah sukses membaca agar fokus, dan bisa selesai, gadget kudu mendapatkan perlakukan khusus yakni dimatikkan. Hal itu bertujuan, agar notifikasi yang masuk tidak mengganggu konsentrasi pesan kala membaca buku.

BACA JUGA: Ke Perpustakaan Tetap Asyik, Meski Eranya Digital

Selain biar fokus terhadap pesan konten, posisi gadget yang nonaktif selama saya membaca, dalam rangka mempercepat proses penyelesaian buku yang dipinjam. Saya sekadar membayangkan, bila membaca disandingkan dengan gadget yang on selalu notifikasinya, maka proses membaca yang terjadi adalah baca-pegang gadget, baca-pegang gadget.

Alhasil, membaca yang nyatanya bisa saya tuntaskan 1,5 jam, ketika saya sambi dengan perilaku baca-pegang gadget, penyelesaikan buku akan lebih lama. Artinya, satu hari yang idealnya cukup untuk menyelesaikan satu buku, bisa molor berhari-hari. Padahal, tugas kita yang sudah terampil membaca adalah meningkatkan daya cepat membaca.

Akhirnya, jika satu hari ini saya sudah membaca buku terbitan “Kalam Mulia” Jakarta, dan telah hatam, monggo pertanyaan di atas alamatkan kepada sampean. Cari buku, baca, dan jawab saja bila sampean hari ini telah membaca buku ini. Bila perlu, besuk dan selanjutnya sampean sudah punya rancangan akan membaca buku ini, ini, dan ini.

Ketika saya dan sampean ditanya, sudah membaca buku hari ini? Dengan tegas bisa dijawab bersama.

Bojonegoro, 27 Juni 2026

Usman Roin