Ke Perpustakaan Tetap Asyik, Meski Eranya Digital

Apakah usang, mengajak mahasiswa ke perpustakaan? Pertanyaan ini penulis alamatkan, sebab, kini kehadiran perpustakaan ‘sepi’ peminat. Jika kemudian diteruskan, oleh sebab apa! Akses digital memudahkan siapa saja yang memerlukan literatur, bisa membuka, membaca, di mana pun dan kapan pun.

Meski perilaku ‘akses’ literatur di mana pun dan kapan pun bisa dilakukan, tidak kemudian menganggap keberadaan perpustakaan secara fisik ‘tidak penting’. Bila buku adalah jendela informasi, perpustakaan adalah tempat yang nyaman, menyediaakan buku serta literatur lain untuk dibuka.

Ketika mengamati beberapa perilaku mahasiswa, fungsi membaca di perpustakaan tampak. Ada yang senang membaca koleksi novel, motivasi diri, buku rujukan mata kuliah. Tentu, pilihan bahan bacaan tersebut memiliki tujuan sendiri-sendiri. Sebagai misal, novel bisa dibaca saat kampus liburan. Atau tugas perkuliahan sudah selesai. Daripada gabut, akan lebih baik bila membaca novel.

Kemudian jenis buku motivasi diri, ia dibaca, supaya menguatkan diri ‘yang sedang galau’ sebagai misal. Bisa oleh sebab diputusin seseorang, mencari tips belajar sukses untuk mahasiswa di perguruan tinggi, atau sengaja ingin membaca sebagau upaya preventif bilamana dikemudian waktu ada persoalan, cara menyelesaikannya telah hadir. Dari mana itu, tentu hasil bacaan buku motivasi.

Adapun buku rujukan mata kuliah, selain dibaca untuk menyelesaikan pembuatan makalah, juga dalam rangka untuk menambah pemahaman materi di kelas.

Bisa dibayangkan kala dosen menjelaskan materi, atau kala mendengar hasil diskusi kita belum memahami penyampaian materi seacra utuh, maka mencari pemahaman melalui membaca buku rujukan mata kuliah bisa dilakukan. Sehingga, terdapat ‘usaha’ mahasiswa untuk menelaah lagi dari yang belum, menjadi paham terhadap materi.

Relevan

Jika di perpustakaan tersedia berbagai genre koleksi buku –fiksi nonfiksi serta buku babon mata kuliah, sangat relevan perihal ajakan ke perpustakaan. Secara historis, kita akan memiliki pengalaman bila di perpustakaan itu terdiri dari banyak bagian-bagian yang bisa diamati.

Ada petugas, disebut pustakawan yang dalam KBBI diartikan orang yang bekerja dalam bidang perpustakaan atau ahli perpustakaan. Di mana tugasnya, salah satunya melayani sirkulasi peminjaman koleksi.

Kemudian ada istilah pemustaka, KBBI mengartikan pengguna perpustakaan. Dalam konteks kampus, maka mahasiswa, tenaga kependidikan hingga pendidik adalah pemustaka. PR-nya kemudian adalah, ya mahasiswa, tenaga kependidikan dan pendidik, mari sesekali hingga berkali-kali berkunjung ke perpustakaan kampus masing-masing.

Selain membaca, hasil observasi penulis yang bisa dilakukan kala hadir di perpustakaan adalah berdiskusi. Diskusi ini bisa bentuk obrolan santai, meski tidak membabaca koleksi.

Inilah fungsi keberadaan perpustakaan dikata rekreatif, atau tempat untuk menghibur ketika antar mahasiswa ada masalah bisa saling curhat fisik. Atau antar tenaga kependidikan dan kependidikan ngobrolin project, kebijakan di bidang pekerjaan, hingga saling meminta nasehat perihal keluarga dari seorang bestie.

Adapun yang terakhir, hasil observasi penulis yang bisa dilakukan pemustaka kala di perpustakaan adalah melakukan penelitian. Terlebih, full akses karya tulis ilmiah –skripsi, tesis, disertasi pada repository kampus bisa ditemui. Atau ingin melihat, memegang karya ilmiah tersebut kala masih berbentuk kertas, semua itu bisa dilakukan dengan kita datang secara langsung di perpustakaan.

Akhirnya, mari kita mencari ‘kemenarikan’ mengapa kita perlu datang ke perpustakaan! Tujuannya, untuk memunculkan keasyikan-keasyikan diri bila kita punya tujuan fundamental ke perpustakaan.

Bojonegoro, 25 Juni 2026

* Usman Roin, Kepala Perpustakaan Unugiri.