
Membaca Buku Cetak vs E-book
Judul ini sekadar pengalaman saya. Kata orang, ngapain ke perpustakaan? Kan sudah ada buku elektronik (e-book) yang bisa dibaca ke mana dan di mana saja!
Oleh sebab ada kalimat itulah, saya ingin menjelaskan bagaimana sih pengalaman yang bisa dirasakan membaca buku cetak yang kemudian coba kita bandingkan (versus) dengan membaca buku elektorinik (e-book).
Buku Cetak
Membaca buku cetak mengutip realsimple.com, lebih mempertajam fokus (sharpens focus). Hal itu saya buktikan kala membaca bukunya Robin Sharma berjudul The 5 AM Club: Bangun Rutinitas Pagi untuk Level Up Hidupmu, saya bisa merasakan kalimat di buku cetak memerlukan fokus dibaca.
Kebisingan membaca buku cetak tidak hadir dalam arti beralihnya perhatian oleh bunyi notifikasi pesan di gadget yang kemudian melahirkan doronggan kuat untuk segera dibaca dan diketahui isinya.
Dari segi berat buku, saya juga bisa mengetahui bahwa karya Sharman sejumlah 443 halaman tersebut memiliki berat 0,40 kg setelah saya melakukan penimbangan menggunakan timbang badan digital. Lalu dari sisi seni, saya bisa mencium aroma kertas βwangiβ, yang membangkitkan naluri untuk membaca.
Sementara cara membaca buku cetak juga berbeda, horizontal. Artinya, saya membaca dari sisi kiri ke kanan, dengan membuka lembar demi lembar halaman buku cetak. Ketika akan menggaris bawahi teks pada buku cetak, memang saya memerlukan pensil dan penggaris. Atau juga stabilo guna melakukan pewarnaan teks bacaan sebagai poin pentingnya.
Adapun dari sisi radiasi, buku cetak tentu tidak se ekstrim e-book. Sehingga, durasi membacanya bisa lama, bahkan bisa sampai khatam dalam waktu sehari hingga dua hari tergantung tebal tipisnya buku yang dibaca.
E-book
Sebagai informasi, kala membaca e-book, saya sedang menikmati buku beliau pak Fathul Wahib berjudul Mendesaian Universitas Masa Depan, di mana Ketika melahirkan buku tersebut masih menjabat Rektor UII.
Kala membaca e-book yang kebetulan saya menggunakan portable document format (pdf), dan baru sampai halaman 55, saya hanya bisa melihat teks buku tersebut melalui gaget, laptop atau PC. Tidak bisa merasakan memegang ketebalan, berat, hingga mencium aroma kertas layaknya buku cetak.
Kemudian perihal cara membacanya pun beda. Bila saya membaca e-book, akan mulai dari atas ke bawah atau dalam istilah kekinian dinamakan scrool atau menggulir hingga menggeser layar ke atas, bawah, kiri, atau kanan guna melihat konten atau teks yang tidak muat dalam satu tampilan.
Hal yang bisa saya sampaikan berikutnya adalah dari posisi membaca, tentu akan dalam kondisi tegang. Sebagai contoh, sikap duduk yang menyesuaikan dengan laptop, atau jenis perangkat lain yang digunakan.
Selanjutnya dari durasi atau lama dalam membaca, hasil penelitian Fildzatul Rohmawati dan Nugrahadi Dwi Pasca Budiono (2025:144) cukup 2 jam. Kemudian bila mau dilanjut membaca, mata kudu diistirahatkan dahulu 15 menit baru kemudian dilanjut untuk membaca.
Atau, bisa menggunakan teknik istirahat setiap 20 menit membaca e-book. Operasionalnya, 20 menit dilakukan aktivitas membaca e-book, lalu istirahat; membaca selama 20 menit lagi yang kemudian dilanjut istirahat. Lalu perihal jarak pandang mata dengan layar adalah 45 cm agar mata tidak cepat merasakan kelelahan oleh sebab otot mata bekerja secara ekstra.
Jika kita sudah mengetahui berbagai gambaran membaca buku cetak versus elektronik, pilihannya ada pada panjenengan semua. Tulisan ini sekadar deteksi indicator awal agar membaca tetap bisa kita jalani setiap hari.
Bojonegoro, 1 Juli 2026

